kh_abdullah

Oleh : Alhafidh KH.Abdullah A.Zaini,LcQ.M.Th.I

Sesungguhnya menghafal Al-Qur’an adalah perkara yang amat penting dan sangat mungkin untuk dilakukan oleh setiap muslim. Lebih mulia lagi apabila seorang mukmin mengamalkan apa yang telah dihafalnya, serta berdakwah ke jalan Allah dengan kitab yang mulia ini.
Alif laam mim shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman (QS. Al-A’raaf: 1-2)
Untuk memahami betapa pentingnya menghafal Al-Qur’an cukuplah kita merenungkan pahala bagi orang yang membacanya.Jika kita telah mengetahui besarnya pahala bagi pembaca Al-Qur’an, bagaimana pula besarnya pahala bagi orang yang menghafalnya?


Sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an pasti akan banyak membacanya. Ia akan terus-menerus membacanya hingga kuat hafalannya, dan ia akan selalu me-muraja’ah (mengulang-ulang kembali) hafalannya, karena boleh jadi ada yang terlupakan olehnya seiring berjalannya waktu.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من قرأحرفا من كتاب الله تعالى فله حسنة, والحسنة بعشرأمثالها, لااقول الم حرف, ولكن ألف حرف, ولام حرف, وميم حرف.

“Barang siapa membaca satu huruf dari kitabullah, maka baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan (akan dibalaz) dengan sepuluh kebaikan yang sebanding. Aku tidak mengatakan bahwa aliif laam miim itu satu huruf, namun aliif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi.Ia mengatakan hadits ini hasan shohih)
Sungguh, akal yang dangkal tidak akan bisa membayangkan seberapa besar pahala yang diraih seorang pembaca –dan penghafal- Al-Qur’an.
Al-Qur’an Akan datang pada hari Kiamat seraya membela para pembacanya. ia akan datang untuk menolong orang-orang yang biasa membacanya, menghafalnya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Bayangkanlah pada hari kiamat kelak, Al-Qur’an datang surat demi surat untuk menolong anda. Surat al-Baqarah datang memberi syafaat kepadamu, surat Ali Imran menuntut pahala untukmu, surat al-A’raaf memberikan pengharapan yang baik bagimu, dan surat al-Anfal mendampingimu.
Sangat sulit membayangkan bahwa kalamullah ‘Azza wa Jalla itu benar-benar akan menolong anda pada hari Kiamat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili Radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah oleh kalian Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya! Bacalah oleh kalian az-Zahrawain; yaitu surah al-Baqarah dan Ali Imran, karena sesungguhnya kedua surat itu akan datang pada hari kiamat bagaikan dua awan atau dua cahaya atau dua kawana burung yang bersih cemerlang ; keduanya membela pembacanya.”

MU’JIZAT MENGHAFAL AL-QUR’AN
Tidak diragukan lagi bahwa menghafal Al-Qur’an yang agung ini adalah sebuah mu’jizat dan ia merupakan efek mukjizat yang sangat nyata, ketika kita dapat menemukan ribuan bahkan jutaan orang dari kalangan umat islam yang dapat menghafalnya dengan ukurannya yang setebal itu, surat-suratnya yang beragam dan ayat-ayatnya yang saling menyerupai.
Alfaqir tidak mengetahui adanya kitab lain dimuka bumi ini –baik kitab samawi maupun bukan samawi-yang bisa dihafal oleh manusia sedemikian rupa. Sungguh ini merupakan keistimewaan tersendiri yang telah Allah ‘Azza wa Jalla berikan untuk kitab-Nya yang agung itu.
Kekaguman kita semakin bertambah manakala melihat beberapa orang dari kaum Muslimin yang mampu menghafalnya secara nyata seperti halnya dibawah ini:
 Anak-anak dibawah usia sepuluh tahun dan terkadang dibawah usia tujuh tahun dapat menghafal Al-Qur’an, bahkan ada yang sudah hafal secara sempurna pada usia ini. Padahal kita tahu bahwa kebanyakan kalimat yang dibaca oleh anak-anak itu tidak difahami maknanya oleh mereka.
 Banyak orang yang buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis , namun mereka dapat menghafal kitab yang mengagungkan ini, hanya dengan mendengar dan menyimak saja.
 Banyak orang yang tidak dikaruniai nikmat penglihatan, namun Allah ‘Azza wa Jalla menggantinya dengan memberikan nikmat Al-Qur’an. Meskipun mereka tidak bisa membaca mushaf dan menelusuri halaman demi halaman Al-Qur’an, namun Allah menganugerahi mereka kemampuan memghafal ayat-ayatnya, bahkan terkadang hafalan mereka lebih kuat daripada orang-orang yang memiliki penglihatan yang normal lagi sehat.
 Yang paling mengagumkan lagi, anda akan mendapati kaum yang tidak bisa berbicara dengan bahasa Arab, namun mereka mampu menghafal Al-Qu’an didada mereka. Bahkan mereka dapat membacanya sebagaimana Al-Qu’an diturunkan, dan terkadang bacaan mereka lebih baik dibanding kebanyakan orang Arab yang bisa berbicara dengan bahasa Arab.
Semua ini menunjukkan bahwa kemudahan penghafalan Al-Qur’an adalah mu’jizat Ilahiyah dan bukti kekuasaan Allah.
Maha benar Allah ‘Azza wa Jalla dengan firman-Nya:
إنا نحن نزلنا الذكروإناله لحافظون
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memelliharanya. ” (QS> al-Hijr: 9)
Diantara cara yang paling agung dalam menjaga Al-Qur’an dimuka bumi ini adalah dengan menyimpannya didada para lelaki, para wanita dan anak-anak. Dada kaum Mukminin merupakan tempat aman yang tidak mungkin ditembus oleh musuh dan orang-orang yang dengki. Karena bisa saja terjadi pada suatu masa umat islam diperangi oleh musuh, dan kitab-kitab Al-Qur’an dibakari. Akan tetapi Al-Qur’an yang yang terdapat didalam dada akan tetap terjaga.
Sebagai contoh, peristiwa seperti ini pernah terjadi di negeri-negeri Islam ketika dijajah oleh Negara Uni Soviet, ketika mereka membakar semua mushaf dan mengeluarkan ancaman pembunuhan bagi siapa saja yang menyimpan mushaf dirumahnya atau ditempat kerjanya. Namun bersamaan dengan itu, para penduduk negeri Islam menyimpan (menghafal) Al-Qur’an di dada-dada mereka, dan mereka saling mengajarkan satu sama lain. Mereka jugamengajarkannya ditempat-tempat persembunyian, gua-gua dan parit-parit.
Maha Benar Allah ‘Azza wa Jalla dengan firman-Nya:
“sesungguhnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”(QS. al-‘Ankabuut: 49)

TANGGUNG JAWAB AGUNG DI PUNDAK PENGHAFAL AL-QUR’AN
Alfaqir ingin menegaskan bahwa menghafal Al-qur’an mengandung konsekwensi yang besar dan tanggung jawab yang agung bagi para penghafalnya.
Orang-orang yang Allah Azza wa Jalla beri kesempatan meraih nikmat (hafal Al-Qur’an) ini wajib mengetahui bahwa sesungguhnya ia sedang memulai kehidupan yang baru, dimana dirinya selalu membawa Al-Qur’an didadanya. Ia tidak lagi hidup seperti sebelumnya. Namun ia akan mengalami banyak perubahan pada jiwa dan aktifitas fisiknya, pada kesendirian dan kebersamaannya dengan orang lain, juga dalam berhubungan dan berinteraksi dengan mereka.
Sungguh ia telah menjadi manusia yang membawa Al-Qur’an. Maka ia mesti menghiasi dirinya dengan sifat-sifat khusus yang hanya para pembawa kitabullah sajalah yang berhias dengannya.
Seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu, berkata:
“seyogyanya seorang pembawa Al-Qur’an dikenal (menonjol dibanding yang lain) waktu malamnya ketika orang-orang sedang tidur, waktu siangnya, ketika orang-orang tengah mencicipi makanan, dikenal dengan kesedihannya ketika orang-orang bergembira, dengan tangisannya ketika orang-orang tertawa, dengan diamnya, ketika orang-orang mengumbar kata dan dengan kekhusukannya ketika orang-orang berfikiran kacau. Seyogyanya seorang pembaca Al-Qur’an senantiasa merendahkan diri dan bersikap lemah lembut, tidak pantas ia bertabiat kasar, suka bertengkar, membentak-bentak, berteriak-teriak dan lekass naik darah.”
Seorang tabi’in, Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah berkata:
“Seorang pembawa Al-Qur’an adalah pembawa panji islam, tidak pantas ia bersenda gurau bersama orang-orang yang bersenda gurau, tidak pantas ia lalai bersama orang-orang yang lalai, dan tidak pantas ia berlaku sia-sia bersama orang-orang yang berlaku sia-sia.”

Tanggung jawab agung bagi seorang pembawa Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu dan Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah diatas cukup memberi penjelasan kepada kita bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan tarbiyah yang luar biasa, tarbiyah bagi pribadi dan tarbiyah bagi umat. Bayangkan jika orang-orang beriman, pada umat ini banyak yang memiliki sifat-sifat diatas, maka tidak diragukan lagi umat ini akan senantiasa berdaya dan berjaya sampai hari Kiamat dengan Ridlo,Taufiq dan Hidayah ALLAH SWT.